Oleh: Prof. Dr. Murodi al-Batawi,MA*
Setiap 10 Muharam– dua arus besar umat Islam bertemu di satu tanggal. Sunni berpuasa ‘Asyura karena Nabi Musa selamat dari Firaun hari itu. Syiah berduka karena Husain bin Ali gugur di Karbala hari itu. Beda ingatan, satu Kalender– dan justru di situlah letak hikmahnya.
Puasa ‘Asyura bukan tradisi baru. Hadis riwayat Bukhari-Muslim mencatat, saat Nabi Muhammad tiba di Madinah, beliau lihat orang Yahudi puasa ‘Asyura. “Ini hari Musa selamat dari Firaun. Kami lebih berhak atas Musa daripada mereka”. Maka Nabi puasa dan perintahkan sahabat puasa. Pahalanya: menghapus dosa setahun lalu. Ulama anjurkan tambah tanggal 9 Muharam “Tasu’a” agar berbeda dengan Yahudi.
‘Asyura mengikat umat Islam dengan sejarah panjang para nabi. Kita nyambung ke Musa, Nuh, Ibrahim. Puasa jadi jembatan ingatan bahwa perjuangan melawan zalim itu panjang. Tanggal sama, 10 Muharam 61 Hijriah, cucu Nabi al-Husain bin Ali wafat di Karbala– dia berangkat bukan untuk merebut kekuasaan. Ia berangkat karena ditawari baiat penduduk Kufah, lalu dikhianati. Air diputus, 72 orang lawan ribuan pasukan Yazid.
Karbala mengguncang karena pertanyaan telanjang– kalau kekuasaan menang tetapi keadilan kalah, Islamnya di mana? Sejak itu, ‘Asyura punya dua wajah: puasa syukur atas kemenangan Musa, dan duka atas kezaliman yang menimpa Husain. Bagi Sunni, al-Husain adalah sayyid syabab ahlil jannah. Bagi Syiah– Imam yang dizalimi. Beda tafsir, titik temunya sama: menolak zalim.
Apa hikmahnya untuk Indonesia 2026. Pertama, hikmah integritas. al-Husain bisa selamat kalau mau baiat ke Yazid. Tapi ia pilih prinsip. Pesannya: jabatan boleh hilang, martabat jangan dijual. Pejabat hari ini perlu ingat: kekuasaan itu titipan, bukan warisan. Kedua, hikmah keberanian minoritas. 72 lawan 4000. Karbala ngajarin kebenaran tidak diukur jumlah like atau massa. Kadang yang benar cuma segelintir–tetapi sejarah membuktikan, yang menang akhirnya nilai, bukan pedang. Ketiga, hikmah air = keadilan. Kekejaman di Karbala: air diputus 3 hari padahal Sungai Eufrat di depan mata. Ini metafora abadi. Penguasa zalim seperti orang yang memonopoli air: sumber hidup rakyat. Puasa ‘Asyura melatih empati: rasakan hausnya orang yang diputus air haknya hari ini.
Hal terindah indah dari 10 Muharam di Indonesia: Sunni puasa, Syiah berziarah, NU santuni anak yatim, Muhammadiyah kajian Musa vs Firaun. Semua jalan bersamaan. ‘Asyura bisa jadi ruang temu umat. Sunni ingat kemenangan Musa atas Firaun. Syiah ingat perlawanan Husain atas Yazid. Dua kisah, satu benang merah: Allah memihak yang tertindas.
Sayang kalau ‘Asyura disempitkan jadi debat boleh nggak puasa– padahal hikmahnya lebih luas: menahan lapar sehari agar peka pada lapar orang lain setahun. 10 Muharam 1448 H jatuh 25 Juni 2026. Pas momentum Indonesia bicara Jakarta Global City dan Ibu Kota Nusantara. Dua-duanya soal kekuasaan dan keadilan.
Puasa ‘Asyura mengingatkan– kota sehebat apapun, kalau “air keadilan” diputus– akan jadi Karbala baru–tetapi bangsa yang ingat Musa dan al-Husain, insyaallah melahirkan pemimpin yang membagi air, bukan memonopolinya. Mari puasa. Bukan hanya untuk hapus dosa setahun lalu–tetapi untuk isi energi setahun ke depan: jadi manusia yang tidak tega melihat orang lain kehausan.
*Profesor Sejarah Peradaban dan Dosen Tetap Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Editor: Jufri Alkatiri
Caption Foto: Profesor Sejarah Peradaban dan Dosen Tetap Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Foto: Murodi al-Batawi)
