Oleh: Anwar Rosyid Soediro*
Membandingkan realitas metafisika Ibnu Arabi (Kesatuan Wujud) dengan Teori Kuantum (Quantum Mechanics) mengungkapkan paralelisme yang luar biasa antara spiritualitas abad ke-12 dan sains moderen abad ke-20. Ketika fisika moderen meneliti partikel subatomik terkecil- bahasanya mulai terdengar mirip dengan intuisi mistis Ibnu Arabi.
Berikut adalah komparasi langsung dan rincian keterkaitan dan keselarasan antara kedua konsep realitas metafikika dengan realitas kuantum tersebut: Sifat Dasar Realitas. Satu Kesatuan Tunggal (wahdatul wujud); multiplisitas di dunia fisik hanyalah ilusi/manifestasi dari Wujud yang Satu. Satu Medan Energi/Gelombang; partikel-partikel tidak terpisah, melainkan riak dari medan yang sama.
Penciptaan / Keberadaan–Tajalli & Khalq al-Jadid; alam semesta dihancurkan dan diciptakan kembali setiap detiknya secara kontinu. Fluktuasi Kuantum / Kuantisasi Waktu; partikel terus muncul dan hilang dari ruang hampa secara instan..
Peran Pengamat (Observer)– Insan Kamil (atau kesadaran manusia) menjadi cermin agar realitas Tuhan menjadi nyata di alam empiris. Observer Effect; fungsi gelombang probabilitas baru runtuh (collapse) menjadi realitas padat saat diamati.
Keterhubungan– Objek Simpatia (Cinta Kosmis); semua hal terikat karena berasal dari esensi nafas Ilahi yang sama (Nafas al-Rahman). Quantum Entanglement; dua partikel yang terpisah jarak tahun cahaya tetap terhubung secara instan tanpa jeda waktu.
Titik Temu Utama antara Kedua Realitas– Realitas Baru Muncul Saat Diamati (Observer Effect) Teori Kuantum: Sebelum diukur atau diamati oleh manusia (atau alat), partikel subatomik berada dalam kondisi Superposisi—mereka adalah gelombang probabilitas matematis yang belum berwujud fisik. Begitu ada pengamat, gelombang tersebut runtuh (collapses) menjadi partikel padat.
Ibnu Arabi: Sesuatu di alam semesta berada pada kondisi A’yan al-Tsabitah (potensi atau cetak biru dalam pengetahuan Tuhan). Potensi ini mewujud menjadi realitas luar (Tajalli) karena adanya kesadaran atau saksi, di mana Insan Kamil (manusia sempurna) bertindak sebagai mata atau pengamat kosmis utamanya.
Keterhubungan Tanpa Batas Ruang (Quantum Entanglement)– Teori Kuantum: Eksperimen membuktikan bahwa dua partikel yang pernah berinteraksi akan mengalami keterikatan (entanglement). Jika partikel A diubah, partikel B di ujung galaksi lain akan berubah seketika. Einstein menyebutnya sebagai “spooky action at a distance”.
Ibnu Arabi: Tidak ada keterpisahan hakiki di alam semesta karena esensinya satu (Wahdatul Wujud). Jarak ruang hanyalah ilusi indra manusia. Melalui konsep ikatan cinta kosmis (sympathea), segala sesuatu di jagat raya saling memengaruhi karena mereka bernafas dengan nafas yang sama.
Waktu dan Re-kreasi Terus-Menerus (Continuous Re-creation)
Teori Kuantum: Ruang hampa tidak pernah benar-benar kosong, melainkan penuh dengan partikel virtual yang terus lahir dan musnah dalam hitungan sepertriliun detik (kuantisasi waktu).
Ibnu Arabi: Mengajarkan konsep Khalq al-Jadid (Penciptaan yang Baru). Baginya, alam semesta tidak diciptakan sekali jadi. Tuhan menghancurkan dan menciptakan kembali alam semesta pada setiap atom waktu– karena proses ini terjadi sangat cepat, manusia melihat dunia ini bergerak secara statis dan kontinu, mirip seperti lembaran film bioskop yang diputar cepat sehingga tampak hidup.
Perbedaan Fundamental Meskipun polanya mirip, tujuannya berbeda. Teori kuantum adalah alat sains empiris untuk mengukur aspek material terkecil dari alam semesta menggunakan matematika.-Sementara itu, tradisi intelektual/tasawuf Ibnu Arabi adalah pengalaman spiritual (metafisika) yang diperoleh lewat ketersingkapan batin (kasyf) untuk memahami esensi ketuhanan dan makna keberadaan manusia.
Sedangkan Titik temu keselarasan Tradisi Intelektual Sufi akbar Ibnu Arabi dengan fisika kuantum, keselarasan keduanya dalam memandang alam semesta bukan sebagai kumpulan benda mati yang terpisah, melainkan jalinan energi yang saling terhubung, di mana kesadaran pengamat memengaruhi realitas. (bersambung)
*Pemerhati Keagamaan dan Filsuf Islam
Editor: Jufri Alkatiri
Caption Foto: Pemerhati Keagamaan dan Filsuf Islam (Foto: Anwar Rosyid Soediro)
