Renungan Malem Jemuwah: Relevansi Tradisi Intelektual bagi Masyarakat Digital  (bag-10 habis)

Pegiat Teologi dan Filsafat Islam (Foto:Oleh, Anwar R. Soediro)

Oleh: Anwar R. Soediro*

Dimensi transformasi diri dan sosial cinta ilahi; memberikan dimensi afektif yang memperkaya pemahaman tentang spiritualitas.  Cinta Ilahi dalam Al-Futūḥāt al-Makkiyyah tidak dipahami sebagai emosi pasif, melainkan sebagai daya penggerak transformasi diri.  Melalui cinta Ilahi, seorang hamba tidak hanya mengenal Tuhan secara konseptual, tetapi mengalami kehadiran-Nya dalam seluruh aspek kehidupan.

Laku bathin tersebut menunjukkan bahwa spiritualitas bersifat personal sekaligus universal– karena setiap individu memiliki jalan dan ekspresi cinta yang berbeda, namun tetap berorientasi pada Tuhan sebagai tujuan utama.

Pembahasan mengenai setting kehidupan sosial Ibnu ‘Arabi memperkuat bahwa pemikiran spiritual tidak dapat dilepaskan dari konteks historis dan sosial. Latar belakang sosial yang memberikan akses terhadap pendidikan dan tradisi intelektual, peran Ibnu ‘Arabi sebagai mistikus dan intelektual publik, serta pilihan hidup asketis yang meninggalkan kemewahan duniawi, membentuk sikap kritisnya terhadap materialisme dan kekuasaan.

Hal ini menunjukkan bahwa tasawuf Ibnu ‘Arabi — bukanlah bentuk eskapisme sosial, melainkan respons reflektif terhadap dinamika sosial, politik, dan ekonomi pada zamannya. Dengan demikian, tasawuf dapat dipahami sebagai bentuk kritik sosial yang berbasis spiritualitas.

Relevansi dan Implementasi Al-Ḥubb al-Ilāh pada Masyarakat Digital–  merupakan Transformasi nilai-nilai spiritual cinta Ilahi  yang memiliki relevansi praktis yang kuat dalam kehidupan kontemporer, khususnya di tengah masyarakat digital yang kompetitif, konsumtif, dan individualistik. Sebagai Koreksi terhadap Krisis Makna Ekonomi atensi menggantikan cinta dengan validasi dan makna dengan viralitas. Al-ḥubb al-ilāhī mengembalikan poros orientasi hidup pada ibadah, pengendalian diri, dan penyucian batin.  

Sebagai Etika Digital Berbasis Raḥmah. Jika, Alam Semesta adalah Ekspresi Cinta agar Tuhan Dikenal– maka aktivitas digital juga harus menjadi sarana agar kebenaran, ilmu, dan kebaikan dikenal. Konten diproduksi sebagai Khidmah (pelayanan), bukan untuk narsisme. Menyadari bahwa setiap pengguna adalah locus tajallī akan memutus rantai dehumanisasi dan polarisasi– karena Al-hubb al-illahi sebagai Landasan Insān Kāmil; maka  Manusia Sempurna di era digital adalah manusia yang utuh: yang menggunakan teknologi dengan penuh cinta pada kebenaran, menjadi penyambung bukan pemecah, dan menjadi cermin nilai-nilai Ilahi bukan berhala performatif.

Dengan demikian, pemikiran Ibnu ‘Arabi tentang cinta Ilahi berfungsi sebagai penyeimbang– mengarahkan manusia pada kehidupan yang lebih bermakna dan ber-etika tanpa harus menolak kemajuan teknologi. Nilai-nilai tersebut berkontribusi pada pembentukan kesadaran hidup yang berorientasi ibadah, pengendalian diri, dan penyucian batin.

Dalam masyarakat moderen yang cenderung kompetitif, konsumtif, dan individualistik, nilai-nilai ini berfungsi sebagai penyeimbang yang mengarahkan manusia pada kehidupan yang lebih bermakna dan beretika.

Catatan, Al-ḥubb al-ilāhī menegaskan bahwa cinta adalah asal dan tujuan penciptaan. Implementasi cinta ilahi dalam dunia digital menuntut pergeseran: dari mencintai produk menjadi mencintai Produsen, dari mengejar engagement menjadi mengejar ibadah, dari memecah menjadi menyambung.

Ketika cinta Ilahi menjadi poros, maka ruang digital dapat bertransformasi dari pasar berhala menjadi ruang ma‘rifah– dan barang siapa yang dianugrahi oleh Allah bentuk cinta yang seperti cinta Allah terhadap diri-Nya sendiri, maka dalam diri seseorang akan dianugrahi oleh-Nya penglihatan (syahadah ilāhiyah). Manusia pada derajat cinta ilahi akan berkhayal tentang manifestasi sifat-Nya dalam setiap wujud yang ada– berhubungan (al-ittiṣāl) dengan-Nya dalam alam khayalannya yang kemudian termanifestasikan ke dalam betuk kasatmata pada masyarakat digital. (habis)

*Pegiat Teologi dan Filsafat Islam

Editor: Jufri Alkatiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *