Lentera di Bawah Kabut: Mengenang Aristides Katoppo, Kompas Nurani Pers Indonesia

Oleh: Satrio Arismunandar*

Mantan Jurnalis Harian Kompas dan Trans TV, salah satu pendiri AJI (Foto: Satrio A)

Kabar duka itu datang di penghujung September 2019— Aristides Katoppo, wartawan senior yang menjadi benteng kebebasan pers Indonesia, berpulang di Rumah Sakit Abdi Waluyo, Jakarta, pada usia 81 tahun. Kepergian pria yang akrab disapa Bang Tides ini meninggalkan rasa kehilangan mendalam di panggung pers nasional.

Rasa duka mengalir deras dari rekan sejawat hingga generasi muda di Aliansi Jurnalis Independen (AJI)—organisasi yang ikut dia bidani di tengah pengekangan Orde Baru. “Turut berduka cita atas meninggalnya Aristides Katoppo, jurnalis dan salah satu pendiri AJI. Semangatmu untuk berani memberitakan kebenaran akan selalu menjadi semangat AJI,” cuit akun resmi AJI Jakarta saat melepas sang perintis.

Perjalanan hidup pria kelahiran Tomohon, 14 Maret 1938 ini memang berkelindan rapat dengan sejarah penting Republik. Sebagai Pemimpin Redaksi harian Sinar Harapan, Tides menempa diri menjadi jurnalis kritis yang amat disegani. Di luar ruang redaksi, dia adalah aktivis Angkatan ’66, sahabat karib Soe Hok Gie, serta pecinta alam kawakan dari Mapala UI.

Kehangatan dan integritas Tides membekas manis di ingatan para sahabatnya. Budayawan dan jurnalis senior Goenawan Mohamad memberikan penghormatan menyentuh atas berpulangnya Tides.  “Aristides Katoppo meninggal dunia hari ini… Wartawan senior, salah seorang pendiri Sinar Harapan, pecinta alam, sahabat Soe Hok Gie. Seorang yang pemberani, jujur, hangat. Kita kehilangan,” kenang Goenawan Mohamad.

Di tengah lanskap media moderen yang kerap riuh oleh pembelahan politik dan perburuan clickbait, pemikiran Tides terasa kian berharga– dalam refleksinya bersama Deutsche Welle menjelang Pemilu 2019, Tides mengingatkan pentingnya kembali pada amanat konstitusi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Bagi Tides, kecerdasan itu bukanlah sekadar hitung-hitungan angka atau kalkulasi politik yang dingin. “Bukan hanya cerdas secara matematika atau keahlian hitung-menghitung, tetapi publik harus dibuat menjadi waspada dan eling,”kata Tides. Kata eling baginya menyimpan kepekaan mendalam tentang situasi masa kini dan dari mana bangsa ini berasal.

Ketika situasi politik tampak samar dan membingungkan, Tides percaya bahwa nurani adalah penunjuk arah sejati.  “Sekalipun segala sesuatu kelihatan samar, ada semacam kabut tebal, sehingga nyaris tidak kelihatan, tetapi kita punya semacam radar untuk menentukan arah, pilihan. Nah, semua itu harus bersumber dari nurani,” ungkapnya.

Tides tidak pernah kehilangan kepercayaannya pada daya tahan dan kearifan masyarakat Indonesia. Dia meyakini bahwa keterbukaan dan sikap saling menghormati akan menjaga bangsa ini tetap utuh. “Saya kira, kalau kita eling terhadap nurani kita, kemudian ikhlas.. Saya percaya bahwa wisdom bangsa Indonesia akan bisa melakukan pilihan yang terbaik,” tuturnya optimistis.

Aristides Katoppo kini telah menyelesaikan kembara panjangnya di dunia– namun, jejak langkahnya di ruang redaksi, di jalur pendakian gunung, hingga di garis depan perjuangan kebebasan akan selalu menyala.

Bang Tides meninggalkan warisan tidak ternilai– bahwa jurnalisme sejati tidak hanya membutuhkan pena yang tajam, tetapi juga nurani yang jujur dan sikap yang selalu eling.

*Mantan Jurnalis Harian Kompas, Trans TV, dan salah satu pendiri AJI

Editor: Jufri Alkatiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Banner Website