Oleh: Toto Izul Fatah*
Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA (Foto: Toto Izul Fatah)
Bayangkan seekor induk orangutan memeluk anaknya di antara pepohonan yang terbakar. Tangannya terluka. Matanya mencari jalan keluar, tetapi asap menutup pandangan. Di belakangnya api membesar. Di depannya, tanah yang dahulu menyediakan makanan telah berubah menjadi hamparan panas.
Bayangkan pula penghuni hutan lainnya– ada gajah dan harimau sumatera, beruang madu, bekantan, trenggiling, kukang, lutung, rusa, kancil, hingga burung rangkong. Di bentang hutan Sumatera dan Kalimantan– mereka mempertahankan hidup dengan caranya sendiri–tetapi menghadapi api yang mengepung, kemampuan berlari, memanjat, dan terbang pun bisa kehilangan artinya.
Dalam gambaran tragedi itu, sebagian tubuh tergeletak gosong. Sebagian masih bergerak dengan napas tersengal, seolah sedang menawar beberapa detik tambahan sebelum ajal. Sebagian berjalan sempoyongan, kehausan, dan kelaparan. Mereka kebingungan: ke mana harus pergi, kepada siapa harus meminta pertolongan? Gambaran tersebut adalah ilustrasi tentang penderitaan satwa ketika hutan terbakar. Pada September 2026, misalnya, tim gabungan menyelamatkan orangutan bernama Mama Penja bersama anaknya di Kayong Utara, Kalimantan Barat.
Dalam laporan yang sama, BKSDA Kalimantan Barat bersama YIARI mencatat evakuasi 23 orangutan, sembilan trenggiling, tiga kukang, satu bekantan, satu musang, dan satu lutung kelabu. Di Ketapang, orangutan lain ditemukan dalam kondisi lemah dan harus mendapatkan oksigen serta cairan infus. Hutan di sekitar lokasi sedang terbakar, sementara sumber air tidak ditemukan di sekitar titik penemuannya.
Di lapangan, petugas, relawan, tenaga medis, dan warga berjuang. Ada yang menarik selang, menyemprotkan air, mencari satwa, mengobati luka, dan membawa mereka menuju tempat aman. Pengabdian mereka layak dihormati– tetapi keberanian orang-orang di garis depan harus ditopang oleh kesungguhan kekuasaan. Ketika api masih mengancam dan habitat terus kehilangan daya dukungnya, pemerintah harus menjawab.
Apakah pengerahan sumber daya sudah sebanding dengan besarnya ancaman? Apakah penyelamatan satwa menjadi prioritas sejak awal, atau baru memperoleh perhatian setelah penderitaannya menjadi tontonan? Dari situlah pertanyaan getir muncul. Bagaimana jika hewan-hewan korban karhutla bisa bicara– mungkin mereka sudah memesan tiket untuk bergabung demo dengan mahasiswa di Jakarta?
Mungkin orangutan akan turun dari sisa pohon yang menghitam. Gajah berjalan membawa anaknya. Harimau keluar dari persembunyian. Bekantan, beruang madu, rusa, dan rangkong bergabung dalam satu barisan panjang. Mereka pun membawa spanduk yang tidak membutuhkan bahasa rumit: “Jangan Bakar Rumah KamI!”, “Kami juga Berhak Hidup!” “Hutan bukan Milik Keserakahan!”
Lalu, seekor induk orangutan maju menjadi juru bicara– dia mengangkat tangannya yang terluka. “Wahai penguasa, apa kesalahan anak kami sampai harus menghirup asap sejak kecil?” Dan sebagian satwa pun, mungkin diwakili Gajah, berteriak seperti mahasiswa: “Kami tidak pernah meminta anggaran. Tidak pernah memperebutkan jabatan. Tidak pernah mengambil tanah kalian. Mengapa rumah kami terus terbakar?”
Kemudian seekor Beruang Madu menyambung dengan suara berat: “Kalian menyebut kami masuk permukiman–tetapi pernahkah kalian menghitung berapa jauh permukiman dan jalan telah masuk ke ruang hidup kami?
Kemudian, Harimau mungkin akan mengaum di hadapan pengeras suara: “Kalian takut kepada taring kami–tetapi siapa yang lebih berbahaya bagi hutan? Taring yang mencari makan atau keserakahan yang menghabiskan tempat hidup semua makhluk?”
Pertanyaan itu menusuk. Sebab satwa memang mengambil dari hutan untuk bertahan hidup– sementara manusia dapat menghancurkan hutan untuk menumpuk kekayaan jauh melampaui kebutuhan hidupnya. Padahal, menurut satwa-satwa itu, “Kamilah bagian dari penjaga kehidupan hutan–tetapi, mengapa justru kami yang harus kehilangan rumah?” Lalu terdengar gugatan yang lebih keras: “Apakah hidup kami harus ditukar dengan perluasan kebun sawit dan keuntungan segelintir manusia?”
Pada puncak demonstrasi imajiner itu– mungkin seekor orangutan akan menyampaikan kalimat paling pahit: “Jika kalian tidak mampu memimpin dengan menjaga kehidupan, biarkan kami yang kalian sebut binatang ini yang akan mencoba memimpin kalian agar alam ini tetap lestari”.
Kalimat tersebut mungkin merupakan satire bagi manusia yang memiliki akal, kewenangan, anggaran, dan perangkat hukum– tetapi belum juga mampu menjamin keselamatan kehidupan yang berada dalam tanggung jawabnya– karena itu, kita tetap berharap, jangan sampai ketidakmampuan mereka berbicara, berteriak dan berdemo dianggap sebagai izin untuk terus mengorbankan mereka.
*Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA
Editor: Jufri Alkatiri
