Pijarberita.com, New York – Kolaborasi musikal itu membuka malam yang teduh dengan ekspresi keintiman zaman Barok melalui komposisi “Vittoria, mio core!” karya Giacomo Carissimi. Suasana hangat memenuhi ruangan Piano-Piano Theater di kawasan Manhattan, New York, pada Jumat pekan lalu.
Bertajuk Poetry, Roots, Resonance — kolaborasi ini menghadirkan mezzo-soprano muda Indonesia, Beatrice Jean Consolata Gobang dalam debut solo resitalnya di jantung New York City dengan iringan pianis Ayunia Indri Saputro. Sesuai tema dan arahan artistik Aning Katamsi, pentas ini menyajikan perjalanan musikal yang menghubungkan puisi, sejarah, dan ingatan budaya lintas abad. Repertoar art song merentang dari zaman Barok hingga kontemporer (1600-an hingga 2000-an). Termasuk menghadirkan beberapa tembang puitis Indonesia.
Komposisi “Vittoria, mio core!” yang mengawali pentas berasal dari puisi karya Domenico Benigni yang digubah oleh Carissimi (1605-1674), salah satu maestro musik Barok. Vokal Beatrice terus berdialog selaras dengan permainan piano Ayunia. Sajian berikutnya adalah dua karya Wolfgang Amadeus Mozart (1756-1791), yakni “An Chloë” dan aria “Voi che sapete” dari opera “Le Nozze di Figaro” yang berlatar Spanyol pada akhir abad ke-18.
Memasuki dunia Lied (lagu seni) Jerman, tampil karya para komposer dunia (1700-an hingga awal 1900) yang menjadikan puisi sebagai inti ekspresi musikal. Di antaranya “Lachen und Weinen” karya Franz Schubert, “Schwanenlied” karya Fanny Mendelssohn-Hensel, “Herbstlied” karya Felix Mendelssohn, dan “Der Gärtner” karya Hugo Wolf.
Setelah menelusuri tradisi Eropa, secara perlahan arah musikal bergeser menuju Indonesia, menghadirkan tembang puitis “Setitik Embun” karya Mochtar Embut (1934-1973) dan “Cempaka Kuning” karya Sjafii Embut (1935-1987). Kedua karya ini menyajikan keindahan puisi dan ekspresi musikal Indonesia kepada pendengar internasional.
Pasca-jeda, resital membuka lanskap musikal lebih luas. Beatrice melantunkan “Tiga Sajak Pendek” karya Ananda Sukarlan (1968) dari puisi Sapardi Djoko Damono. Berdampingan dengan mélodie Prancis “Les chemins de l’amour” karya Francis Poulenc (1899-1963).
Di piano, Ayunia memainkan “Pagodes from Estampes” karya Claude Debussy (1862-1918). Komposisi ini lahir dari kekaguman Debussy terhadap bunyi gamelan Jawa yang ia dengar di Paris pada akhir abad ke-19. Program kemudian kembali pada akar tradisi Nusantara melalui lagu rakyat “Mana Lolo Banda” dari Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur. Lalu diakhiri dengan sentuhan sederhana “Simple Gifts” karya komposer Amerika Aaron Copland (1900-1990).
Resital malam itu ditutup dengan dua lagu encore, yakni “Le Violette” karya Alessandro Scarlatti (1660-1725) dan “Indonesia Pusaka” karya Ismail Marzuki (1914-1958). Rangkaian repertoar ini menghadirkan perjalanan emosional dari berbagai akar tradisi hingga resonansi musikal yang hangat dan reflektif.
Perjalanan Musikal
Bagi Beatrice, malam tersebut menandai langkah penting dalam perjalanan belajar dan musikalnya. Remaja kelahiran Jakarta ini tampil pertama kali di panggung internasional Weill Recital Hall, Carnegie Hall New York, pada Desember 2022, setelah meraih penghargaan dalam American Protégé International Competition dan Golden Classical Music Awards. Pada Maret 2026, dia kembali tampil di Carnegie Hall sebagai First Prize Winner kategori vokal klasik dalam konser para pemenang Golden Classical Music Awards.
Perjalanan musik pelajar Kolese Gonzaga Jakarta ini dimulai sejak masa kecil melalui biola dan piano dengan metode Suzuki. Ia kemudian menekuni studi vokal di The Resonanz Music Studio Jakarta bersama mezzo-soprano Valentina Nova. Sejak 2021, ia melanjutkan pembinaan vokal bersama soprano dan pedagog Aning Katamsi, serta aktif sebagai anggota The Resonanz Children’s Choir sejak 2018.
Ayunia adalah pianis dan pendidik musik kelahiran Surabaya yang telah tampil di berbagai festival internasional, termasuk Chan Centre for the Performing Arts. Ia juga memenangkan beberapa kompetisi, di antaranya Ananda Sukarlan Award International Piano Competition, Silverman Piano Concerto Competition, dan Indonesia International Piano Competition. Saat ini ia menempuh studi doktoral bidang pedagogi dan pertunjukan piano di Universitas Michigan, Amerika Serikat.
Resital ini diselenggarakan sebagai bagian dari kerja-kolaboratif HeartSongGift, sebuah gerakan budaya yang diinisiasi oleh Avanti Fontana dalam upaya bersama menumbuhkan warisan budaya melalui musik sekaligus mendukung perkembangan talenta muda. Kali ini HeartSongGift menjalin kemitraan dengan Pondok Baca Kampung Kabor di Maumere, Flores, untuk berbagi pengalaman dan berkokreasi dalam kegiatan literasi serta pendidikan musik bagi anak-anak.
Kolaborasi musikal dalam Poetry, Roots, Resonance ini — menghadirkan lebih dari sekadar konser — menjadi pengingat bahwa musik—yang lahir dari puisi dan ingatan budaya—dapat menjadi bahasa universal yang membawa kenangan, rasa syukur, harapan, dan solidaritas sosial lintas generasi. (JH Philippe)
Editor Jufri Alkatiri
Caption Foto: Kolaborasi resital mezzo-soprano Beatrice Jean Consolata Gobang dan pianis Ayunia Indri Saputro di Piano-Piano Theater New York, Jumat (13/03/2026) pekan lalu. (Foto:Istimewa)
