Renungan Dhino Jemuwah: Ajaran Tasawuf di Nusantara (bag-4)

Oleh: Anwar R. Soediro*

Pegiat Teologi dan Filsafat Islam (Foto: Anwar R. Soediro)

Wirid dan Dzikir Inti Tarekat Qadiriyyah

Syekh Abdul Qadir al-Jailani bukan pendiri tarekat dalam arti membuat wirid baru. Beliau adalah Imam Madzhab Hambali dan guru besar madzhab Hambali di zamannya. Biografi beliau dimuat dalam Adz Dzail ‘Ala Thabaqil Hanabilah karya Imam Ibnu Rajab al-Hambali. Dzikir dan Wirid adalah inti dari Tarekat Qadiriyyah, tarekat yang dinisbatkan kepada Syekh Abdul Qadir al-Jailani.

Dalam tasawuf, tarekat ini dikategorikan sebagai Thariqah al-Dzikr — yaitu tarekat yang menjadikan dzikir sebagai jalan utama untuk wushul (sampai kepada Allah). Secara makna, dzikir dalam Tarekat Qadiriyyah bukan sekedar ucapan lisan, tetapi  hudurul qalbi ma’Allah yakni hadirnya hati bersama Allah.

1. Mazhab Fiqih: Hambali Murni

Syekh Abdul Qadir al-Jailani — seorang Imam bermazhab Hambali (salafi sebagaimana Ibnu Taimiyyah dan Muhammaiyah di Indonesia cenderung fiqih Hambali/qur’an dan sunnah). Di Madrasah beliau di Baghdad, yang diajarkan adalah fiqih Hambali, bukan fiqih tarekat.

2. Aqidah: Atsari/Salafi

Aqidah Syekh Abdul Qadir al-Jailani adalah Hanabilah (Atsariyah).  Buktinya paling jelas di kitab beliau yang paling otoritatif: Al-Ghunyah li Thalibi Thariqil Haq. Di dalam Al-Ghunyah, beliau berkata: “Dia (Allah) di arah atas, berada di atas Arsy-Nya, meliputi seluruh kerajaan-Nya. Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu.” Dan dalam masalah aqidah, manhaj beliau sangat keras: “Saya bukanlah ahli kalam dan saya tidak melihat kalam dalam hal ini, kecuali yang ada di dalam Kitabullah atau hadits dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam atau dari sahabat-sahabatnya, atau dari tabi’in.”

Syekh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali ketika meneliti kitab Al-Ghunyah I/83-94 menyimpulkan: “Maka aku mengetahui bahwa dia sebagai seorang Salafi. Ia menetapkan nama-nama dan sifat-sifat Allah dan aqidah-aqidah lainnya di atas manhaj Salaf.”

3. Apa itu Tarekat Menurut Beliau Sendiri?

Karena aqidahnya Atsari, definisi tarekat menurut beliau bukan joget, bukan khalwat ekstrim. Beliau mendefinisikan tasawuf dengan 4 huruf: Ta – Sa – Wau – Fa– tetapi intinya beliau ringkas dalam Futuhul Ghaib: Tarekatku dibangun di atas Al-Qur’an dan Sunnah. Siapa yang keluar dari keduanya, bukan dari golonganku.” Mursyid beliau bukan  khirqa, bukan mimpi. Mursyid beliau adalah dalil Qur’an dan Hadits. Beliau berkata: “Ikutilah Sunnah, jangan membuat bid’ah. Taatlah, jangan menyelisihi. Ikhlaslah, jangan syirik. Jangan keluar dari madzhab Salaf.” Itulah kenapa di Al-Ghunyah, bab pertama yang beliau bahas panjang lebar bukan dzikir, tetapi Aqidah Ahlus Sunnah, adab shalat, puasa, zakat, haji, kemudian baru bab adab sufi.

4. Konsekuensi untuk Pengamal Qadiriyyah Murni

Jika suluk tarekat Qadiriyyah yang sesuai Syekh Abdul Qadir yang asli (bukan Qadiriyyah yang sudah bercampur): a)    Fiqih harus benar dulu. Tidak sah suluk 120 hari kalau shalat fardhunya masih bolong. Beliau sangat ketat dalam halal-haram Hambali.

b) Dzikir harus ada dalil. Dzikir Jahar Laa Ilaaha Illallah 165x dan Dzikir Khafi Allah-Allah itu beliau sandarkan pada hadits talqin Ali bin Abi Thalib dan hadits  “Afdhalu dzikri Laa Ilaaha Illallah”.

c) Anti-wahdatul wujud filosofis– meskipun alam Nasut-Malakut-Jabarut-Lahut itu dipakai sebagai maqam, beliau menolak pemahaman hulul – bahwa Allah menyatu dengan makhluk. Alam Lahut tetap makhluk, Allah tetap di atas Arsy-Nya. Itu bedanya Qadiriyyah murni dengan yang sudah tercampur Ibnu Arabi belakangan. Jadi Syekh Abdul Qadir: Beliau adalah sufi yang sangat syar’i. Qadiriyyah yang asli adalah Hambali yang berdzikir, bukan tarekat yang meninggalkan fiqih.

Dzikir adalah inti dari Tarekat Qadiriyyah, tarekat yang dinisbatkan kepada Syekh Abdul Qadir al-Jailani.  Dalam tasawuf, tarekat ini dikategorikan sebagai Thariqah al-Dzikr, yaitu tarekat yang menjadikan dzikir sebagai jalan utama untuk wushul (sampai kepada Allah).  Secara makna, dzikir dalam Tarekat Qadiriyyah bukan sekedar ucapan lisan, tapi hudurul qalbi ma’Allah yaitu hadirnya hati bersama Allah. (bersambung)

*Pegiat Teologoi dan Filsafat Islam

Editor:Jufri Alkatiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Banner Website