Pegiat Teologi dan Filsafat Islam (Foto: Anwar R. Soediro)
Oleh: Anwar R. Soediro*
Prinsip diabolik tentang Iblis atau Setan– prinsip ini berbeda dengan teologi pada umumnya. Pertama, prinsip Iblis menentang dorongan pengejawantahan-diri untuk menciptakan objek lain selain dari dirinya dan menegaskan kecemburuan karena bersatunya ruh murni dan transenden, hal ini sebagai alasan Setan untuk menolak dan mengabaikan perintah Allah untuk bersujud di hadapan Adam.
Kedua, prinsip bahawa Iblis yang menegaskan realitas terpisah dari kehidupan dan substansi kosmik serta yang menyangkal semua keutamaan dari Ruh.Dengan kata lain, prinsiplah yang berusaha menegaskan realitas terpisah dari kutub, dengan mengorbankan yang lain, dan kemudian menghalangi keseluruhan orisinal dari pengalaman ilahi sebagai Realitas, dengan mencoba memutuskan mata rantai yang sangat penting antara “sendiri” dan “yang lain’’ dan mengasingkan masing-masing pada isolasi yang saling terpisah dalam absurditas. Dengan prinsip diabolic ini — Ibnu Arabi menafsirkan kisah drama kosmis penciptaan Adam dalam perspektif metafisika. Ketika Tuhan menyatakan akan menciptakan Adam sebagai khalifah, Iblis gagal melihat hakikat Adam karena:
Kebutaan Monodisciplinary (hanya melihat satu Dimensi); Ibnu Arabi menjelaskan bahwa Tuhan menciptakan Adam dengan “Kedua Tangan-Nya” (menyitir QS. Shad: 75), yang melambangkan sintesis sempurna antara aspek Transendensi (Tanzih/Ruh/Ilahi) dan Imanensi (Tashbih/Materi/Bumi). Pandangan Iblis menjadi bias karena Iblis adalah makhluk satu dimensi. Dia hanya melihat Adam dengan mata lahiriah (basyar)– bukan mata batin (bashirah). Ketika melihat Adam, yang dilihat Iblis hanyalah “kulit luar” atau wadah materinya: yaitu tanah liat yang gelap, bau, dan mati.
Sehingga Logika Iblis menjadi Cacat: Iblis berkata, “Aku lebih baik darinya, Engkau ciptakan aku dari api dan Engkau ciptakan dia dari tanah.” Bagi Ibnu Arabi, Iblis terjebak pada analogi material (qiyas). Iblis mengira substansi api (yang bercahaya dan membubung ke atas) secara otomatis lebih mulia daripada tanah (yang gelap dan berada di bawah).
Kegagalan Memahami Konsep Madzhar (Lokus Manifestasi); Bagi Ibnu Arabi, Adam adalah madzhar yaitu tempat penampakan atau cermin bagi seluruh *Nama-Nama Ilahi (Al-Asma’ al-Ilahiyyah) secara komprehensif. Malaikat vs Iblis: Ketika Tuhan memerintahkan sujud, para malaikat (meski awalnya bertanya-tanya) — akhirnya bersujud karena mereka berhasil menangkap pantulan Keagungan Tuhan di dalam cermin diri Adam. Mereka sujud kepada “Nama-Nama Ilahi” yang teraktualisasi pada Adam.
Hijab Iblis: Iblis terhijab (terhalang) oleh egoitasnya sendiri. Iblis gagal melihat bahwa di dalam struktur batin Adam, terdapat tiupan Ruh Ilahi yang merangkum seluruh esensi alam semesta. Iblis melihat Adam sebagai “pesaing” material, bukan sebagai manik mata (pupil) alam semesta tempat Tuhan memandang Diri-Nya.
Jebakan Aspek Transendensi (Tanzih) yang Kaku Secara mengejutkan; Ibnu Arabi dalam beberapa ulasannya mengisyaratkan bahwa Iblis adalah seorang *”tauhidis yang kaku”. Iblis merasa bahwa bersujud kepada selain Tuhan adalah pelanggaran terhadap kemurnian Tauhid. Namun, di sinilah letak kesalahannya: Iblis mengira bahwa menghormati Adam berarti menyekutukan Tuhan (syirik).
Iblis tidak paham bahwa Adam adalah perpanjangan tangan realitas Tuhan di alam materi. Menolak Adam berarti menolak perintah Sang Pemilik Nama yang bermanifestasi di dalam diri Adam. Ketaatan Iblis bersifat abstrak dan dogmatis, sementara ketaatan yang dituntut Tuhan adalah ketaatan realitas yang mewujud pada sosok Adam.
Perbedaan Asal-Usul Aktualisasi; Ibnu Arabi memetakan perbedaan ontologis antara materi penciptaan Iblis dan Adam: Api (Iblis), Memiliki sifat dasar bergejolak, tidak stabil, melambangkan keangkuhan, dan selalu ingin naik ke atas secara mandiri. Sifat api ini membuat Iblis merasa dirinya adalah pusat kebenaran. Tanah (Adam), Memiliki sifat tenang, stabil, reseptif (menerima), dan rendah hati. Karena sifat tanah inilah, Adam memiliki kapasitas untuk menampung dan menyerap seluruh benih Nama-Nama Tuhan, sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh api yang destruktif.
Dalam perspektif Iblis Adam adalah makhluk dengan Bahan Baku Tanah liat kering, gelap, dan hina, bagi Iblis manusia hanya berdimensi Fisikiah / Lahiriah / Eksoteris saja, hanya memiliki Kapasitas Makhluk Bumi yang derajatnya di bawah api. Padahal Sejatinya hakikat Adam adalah Sintesis “Dua Tangan” Tuhan (Materi dan Ruh Ilahi), memliki dimensi Metafisis / Batiniah / Esoteris total, dan sosok Insan Kamil (Manusia Sempurna), cermin utuh Tuhan.
Penyebab Menolak Adam, Iblis Terjebak ego (Ananiyah) dan logika material. Iblis buta terhadap rahasia batin tiupan Ruh Ilahi. Kisah Iblis dan Adam dalam perspektif Ibnu Arabi ini menjadi peringatan bagi para penempuh jalan spiritual (salik): bahwa bahaya terbesar dalam keberagamaan adalah ketika seseorang hanya terpaku pada bentuk-bentuk lahiriah dan hukum formal (kulit), lalu gagal mengenali esensi spiritual yang hidup di dalamnya (isi).
Berapa banyak kita hari ini jadi “Iblis Kecil” yang menilai orang dari bungkusnya; jabatannya, gaji kekayaan… dan buta melihat Ruh dan Asma Allah di dalamnya? Belajarlah membaca nama Tuhan di balik kejadian dan peristiwa, ketika macet di jalan bacalah asma Ash-shabur, ketika rezeki telat bacalah Ar-Razak, ketika melihatair ingatlah sumber kehidupan baca al-Hayy, ketika merasakan semilir angin ingatlah ketika kehidupan ditiupkan (Ar-Ruh.).
Alam semesta adalah kitab, Adam (manusia) adalah pembacanya, jika pembacanya buta huruf, maka kitab itu sia-sia. Tanpa manusia, alam bisu, dengan manusia Alam bertasbih. Tanpa kesadaran Adam didalam diri manusia hidup ini hanya seonggok jasat kosong. (bersambung)
*Pegiat Teologi dan Filsafat Islam
Editor: Jufri Alkatiri
